Baca juga
Nama | : | Mukhammad Nur Arifin |
---|---|---|
NIM | : | 858851383 |
Mata Kuliah | : | Pembelajaran Terpadu SD |
Konsep Dasar Pembelajaran Terpadu
A. Pengertian
Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu merupakan suatu
pendekatan yang berorientasi kepada praktek pembelajaran yang sesuai dengan
kebutuhan perkembangan anak.
B. Karakteristik
Pembelajaran Terpadu
Terdapat beberapa
karakteristik yang perlu Anda pahami dari pembelajaran terpadu. Coba perhatikan
uraian berikut ini, kemudian Anda bandingkan dengan pembelajaran konvensional
yang biasa dilakukan oleh guru di sekolah saat ini.
1.
Pembelajaran terpadu berpusat pada siswa
(student centered). Hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih
banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Peran guru lebih banyak
sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk
melakukan aktivitas belajar.
2.
Pembelajaran terpadu dapat memberikan
pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman
langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkret) sebagai dasar
untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.
3.
Dalam pembelajaran terpadu pemisahan
antarmata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Bahkan dalam pelaksanaan di
kelas-kelas awal sekolah dasar, fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan
tematema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.
4.
Pembelajaran terpadu menyajikan
konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran.
Dengan demikian, siswa dapat memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal
ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi
dalam kehidupan sehari-hari.
5.
Pembelajaran terpadu bersifat luwes
(fleksibel), sebab guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran
dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan dengan kehidupan siswa dan keadaan
lingkungan di mana sekolah dan siswa berada.
6.
Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai
dengan minat dan kebutuhan siswa. Dengan demikian, siswa diberi kesempatan
untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
C. Landasan
Pembelajaran Terpadu
Landasan-landasan yang
perlu mendapatkan perhatian guru dalam pelaksanaan pembelajaran terpadu di
sekolah dasar meliputi landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan
praktis.
Secara filosofis,
kemunculan pembelajaran terpadu sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat
berikut: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3) humanisme. Mari kita
bahas ketiga aliran tersebut secara lebih ringkas.
1. Aliran
progresivisme beranggapan bahwa proses pembelajaran pada umumnya perlu sekali
ditekankan pada: (a) pembentukan kreativitas, (b) pemberian sejumlah kegiatan,
(c) suasana yang alamiah (natural), dan (d) memperhatikan pengalaman siswa.
Dengan kata lain proses pembelajaran itu bersifat mekanistis (Ellis, 1993).
2. Aliran
konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai
kunci dalam pembelajaran. Sebab itu, pengalaman orang lain yang diformulasikan
misalnya dalam suatu buku teks perlu dihubungkan dengan pengalaman siswa secara
langsung. Aliran konstruktivisme ini menekankan bahwa pengetahuan adalah hasil
konstruksi atau bentukan manusia.
3. Aliran
humanisme melihat siswa dari segi: (a) keunikan/kekhasannya, (b) potensinya,
dan (c) motivasi yang dimilikinya. Siswa selain memiliki kesamaan juga memiliki
kekhasan. Implikasi dari hal tersebut dalam kegiatan pembelajaran yaitu: (a)
layanan pembelajaran selain bersifat klasikal, juga bersifat individual, (b)
pengakuan adanya siswa yang lambat dan siswa yang cepat, (c) penyikapan yang
unik terhadap siswa baik yang menyangkut faktor personal/individual maupun yang
menyangkut faktor lingkungan sosial/kemasyarakatan.
Pandangan-pandangan
secara psikologis yang melandasi pembelajaran terpadu dapat diuraikan sebagai
berikut.
1. Pada
dasarnya masing-masing siswa membangun realitasnya sendiri. Dengan kata lain,
pengalaman langsung siswa adalah kunci dari pembelajaran yang berarti bukan
pengalaman orang lain (guru) yang ditransfer melalui berbagai bentuk media.
2. Pikiran
seseorang pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk mencari pola dan hubungan
antara gagasan-gagasan yang ada. Pembelajaran terpadu memungkinkan siswa untuk
menemukan pola dan hubungan tersebut dari berbagai disiplin ilmu.
3. Pada
dasarnya siswa adalah seorang individu dengan berbagai kemampuan yang
dimilikinya dan mempunyai kesempatan untuk berkembang. Dengan demikian, peran
guru bukanlah satu-satunya pihak yang paling menentukan, tetapi lebih banyak
bertindak sebagai tut wuri handayani.
4. Keseluruhan
perkembangan anak adalah terpadu dan anak melihat dirinya dan sekitarnya secara
utuh (holistik).
Landasan
praktis diperlukan karena pada dasarnya guru harus melaksanakan pembelajaran
terpadu secara aplikatif di dalam kelas. Sehubungan dengan hal tersebut, maka
dalam pelaksanaannya pembelajaran terpadu juga dilandasi oleh landasan praktis
yaitu sebagai berikut.
1.
Perkembangan ilmu pengetahuan begitu cepat
sehingga terlalu banyak informasi yang harus dimuat dalam kurikulum.
2.
Hampir semua pelajaran di sekolah
diberikan secara terpisah satu sama lain, padahal seharusnya saling terkait.
3.
Permasalahan yang muncul dalam pembelajaran
sekarang ini cenderung lebih bersifat lintas mata pelajaran (interdisipliner)
sehingga diperlukan usaha kolaboratif antara berbagai mata pelajaran untuk
memecahkannya.
4.
Kesenjangan yang terjadi antara teori dan
praktek dapat dipersempit dengan pembelajaran yang dirancang secara terpadu
sehingga siswa akan mampu berpikir teoritis dan pada saat yang sama mampu
berpikir praktis
D. Prinsip-prinsip
Pembelajaran Terpadu
Terdapat beberapa prinsip
yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran terpadu di sekolah
dasar, terutama pada saat penggalian tematema, pelaksanaan pembelajaran, dan
pelaksanaan penilaian. Dalam proses penggalian tema-tema perlu diperhatikan
prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Tema
hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan untuk
memadukan mata pelajaran.
2. Tema
harus bermakna, maksudnya tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal
bagi siswa untuk belajar selanjutnya.
3. Tema
harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa.
4. Tema
yang dikembangkan harus mampu menunjukkan sebagian besar minat siswa.
5. Tema
yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa otentik yang
terjadi di dalam rentang waktu belajar.
6. Tema
yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku serta harapan
masyarakat.
7. Tema
yang dipilih hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.
Dalam
proses pelaksanaan pembelajaran terpadu perlu diperhatikan prinsip-prinsip
sebagai berikut.
1. Guru
hendaknya tidak bersikap otoriter atau menjadi single actor yang mendominasi
aktivitas dalam proses pembelajaran.
2. Pemberian
tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang
menuntut adanya kerja sama kelompok.
3. Guru
perlu bersikap akomodatif terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak
terpikirkan dalam perencanaan pembelajaran
E. Manfaat
Pembelajaran Terpadu
Di bawah ini diuraikan beberapa manfaat
yang dapat dipetik dengan pelaksanaan pembelajaran terpadu, antara lain:
1.
Dengan menggabungkan berbagai mata
pelajaran akan terjadi penghematan karena tumpang-tindih materi dapat dikurangi
bahkan dihilangkan;
2.
Siswa dapat melihat hubungan-hubungan yang
bermakna sebab materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat
daripada tujuan akhir itu sendiri;
3.
Pembelajaran terpadu dapat meningkatkan
taraf kecakapan berpikir siswa. Hal ini dapat terjadi karena siswa dihadapkan
pada gagasan atau pemikiran yang lebih besar, lebih luas, dan lebih dalam
ketika menghadapi situasi pembelajaran;
4.
Kemungkinan pembelajaran yang
terpotong-potong sedikit sekali terjadi, sebab siswa dilengkapi dengan
pengalaman belajar yang lebih terpadu sehingga akan mendapat pengertian
mengenai proses dan materi yang lebih terpadu;
5.
Pembelajaran terpadu memberikan
penerapan-penerapan dunia nyata sehingga dapat mempertinggi kesempatan transfer
pembelajaran (transfer of learning);
6.
Dengan pemaduan pembelajaran antarmata
pelajaran diharapkan penguasaan materi pembelajaran akan semakin baik dan
meningkat;
7.
Pengalaman belajar antarmata pelajaran
sangat positif untuk membentuk pendekatan menyeluruh pembelajaran terhadap
pengembangan ilmu pengetahuan. Siswa akan lebih aktif dan otonom dalam
pemikirannya.
Model-model
Pembelajaran Terpadu
A. BERBAGI
MODEL PEMBELAJARAN TERPADU
1. Model
Penggalan (Fragmented)
Model Penggalan
(Fragmented) Model fragmented ditandai oleh ciri pemaduan yang hanya terbatas
pada satu mata pelajaran saja. Misalnya, dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia,
materi pembelajaran tentang menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dapat
dipadukan dalam materi pembelajaran keterampilan berbahasa. Dalam proses
pembelajarannya, butir-butir materi tersebut dilaksanakan secara terpisah-pisah
pada jam yang berbeda-beda.
2. Model
Keterhubungan (Connected)
Model connected dilandasi
oleh anggapan bahwa butir-butir pembelajaran dapat dipayungkan pada induk mata
pelajaran tertentu. Butirbutir pembelajaran seperti: kosakata, struktur,
membaca, dan mengarang misalnya, dapat dipayungkan pada mata pelajaran Bahasa
dan Sastra Indonesia. Penguasaan butir-butir pembelajaran tersebut merupakan
keutuhan dalam membentuk kemampuan berbahasa dan bersastra.
3. Model
Sarang (Nested)
Model nested merupakan
pemaduan berbagai bentuk penguasaan konsep keterampilan melalui sebuah kegiatan
pembelajaran. Misalnya, pada jam-jam tertentu seorang guru memfokuskan kegiatan
pembelajaran pada pemahaman tentang bentuk kata, makna kata, dan ungkapan
dengan saran pembuahan keterampilan dalam mengembangkan daya imajinasi, daya
berpikir logis, menentukan ciri bentuk dan makna kata-kata dalam puisi, membuat
ungkapan dan menulis puisi.
4. Model
Urutan/Rangkaian (Sequenced)
Model sequenced merupakan
model pemaduan topik-topik antarmata pelajaran yang berbeda secara paralel. Isi
cerita dalam roman sejarah, misalnya; topik pembahasannya secara paralel atau
dalam jam yang sama dapat dipadukan dengan ikhwal sejarah perjuangan bangsa,
karakteristik kehidupan sosial masyarakat pada periode tertentu maupun topik
yang menyangkut perubahan makna kata.
5. Model
Bagian (Shared)
Model shared merupakan
bentuk pemaduan pembelajaran akibat adanya overlapping konsep atau ide pada dua
mata pelajaran atau lebih. Butir-butir pembelajaran tentang kewarganegaraan
dalam PPKn misalnya, dapat bertumpang tindih dengan butir pembelajaran dalam
Tata Negara, PSPB, dan sebagainya.
6. Model
Jaring Laba-laba (Webbed)
Model yang paling populer
adalah model webbed. Model ini bertolak dari pendekatan tematis sebagai pemadu
bahan dan kegiatan pembelajaran. Dalam hubungan ini tema dapat mengikat
kegiatan pembelajaran baik dalam mata pelajaran tertentu maupun lintas mata
pelajaran.
7. Model
Galur (Threaded)
Model threaded merupakan
model pemaduan bentuk keterampilan, misalnya; melakukan prediksi dan estimasi
dalam matematika, ramalan terhadap kejadian-kejadian, antisipasi terhadap
cerita dalam novel, dan sebagainya.
8. Model
Keterpaduan (Intergrated)
Model integrated
merupakan pemaduan sejumlah topik dari mata pelajaran yang berbeda, tetapi
esensinya sama dalam sebuah topik tertentu. Topik evidensi yang semula terdapat
dalam mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, Pengetahuan Alam, dan
Pengetahuan Sosial, agar tidak membuat muatan kurikulum berlebihan, cukup
diletakkan dalam mata pelajaran tertentu, misalnya Pengetahuan Alam.
9. Model
Celupan (Immersed)
Model immersed dirancang
untuk membantu siswa dalam menyaring dan memadukan berbagai pengalaman dan
pengetahuan dihubungkan dengan medan pemakaiannya. Dalam hal ini tukar
pengalaman dan pemanfaatan pengalaman sangat diperlukan dalam kegiatan
pembelajaran.
10. Model
Jaringan (Networked)
Model networked merupakan
model pemaduan pembelajaran yang mengandaikan kemungkinan pengubahan konsepsi,
bentuk pemecahan masalah, maupun tuntutan bentuk keterampilan baru setelah
siswa mengadakan studi lapangan dalam situasi, kondisi, maupun konteks yang
berbeda-beda.
B. MODEL
PEMBELAJARAN TERPADU DI SEKOLAH DASAR
1. Model
Jaring Laba-laba (Webbed)
Model pembelajaran ini
adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik.
Pendekatan ini dimulai dengan menentukan tema, yang kemudian dikembangkan
menjadi subtema dengan memperhatikan keterkaitan tema tersebut dengan mata
pelajaran yang terkait.
Dari subtema tersebut
diharapkan aktivitas siswa dapat berkembang dengan sendirinya. Kekuatan
pembelajaran terpadu model jaring laba-laba adalah sebagai berikut :
a. Adanya
faktor motivasional yang dihasilkan dari menyeleksi tema yang sangat diminati.
b. Model
jaring laba-laba relatif lebih mudah dilakukan oleh guru yang belum
berpengalaman.
c. Model
ini mempermudah perencanaan kerja tim untuk mengembangkan tema ke dalam semua
bidang isi pelajaran.
Kelemahan
pembelajaran terpadu model jaring laba-laba sebagai berikut :
a. Langkah
yang sulit dalam pembelajaran terpadu model jaring laba-laba adalah menyeleksi
tema.
b. Adanya
kecenderungan merumuskan suatu tema yang dangkal sehingga hal ini hanya berguna
secara artifisial di dalam perencanaan kurikulum.
c. Guru
dapat menjaga misi kurikulum.
d. Dalam
pembelajaran guru lebih fokus pada kegiatan daripada pengembangan konsep.
2. Model
Keterhubungan (Connected)
Model keterhubungan adalah model
pembelajaran terpadu yang secara sengaja diusahakan untuk menghubungkan satu
konsep dengan konsep lain, satu topik dengan topik lain, satu keterampilan
dengan keterampilan lain, tugas-tugas yang dilakukan dalam satu hari dengan
tugas-tugas yang dilakukan di hari berikutnya, bahkan ide-ide yang dipelajari
dalam satu semester dengan ide-ide yang akan dipelajari pada semester
berikutnya di dalam satu mata pelajaran.
Kekuatan pembelajaran terpadu model
keterhubungan adalah :
a. Dengan
mengaitkan ide-ide dalam satu mata pelajaran, siswa memiliki keuntungan gambaran
yang besar seperti halnya suatu mata pelajaran yang terfokus pada satu aspek.
b. Konsep-konsep
kunci dikembangkan siswa secara terus-menerus sehingga terjadi internalisasi.
c. Mengaitkan
ide-ide dalam suatu mata pelajaran memungkinkan siswa mengkaji, mengkonseptualisasi,
memperbaiki, dan mengasimilasi ide secara berangsur-angsur dan memudahkan
transfer atau pemindahan ideide tersebut dalam memecahkan masalah.
Kelemahan model pembelajaran keterhubungan
adalah:
a. Berbagai
mata pelajaran di dalam model ini tetap terpisah dan nampak tidak terkait,
walaupun hubungan dibuat secara eksplisit antara mata pelajaran
(interdisiplin).
b. Guru
tidak didorong untuk bekerja secara bersama-sama sehingga isi pelajaran tetap
terfokus tanpa merentangkan konsep-konsep dan ide-ide antara mata pelajaran.
c. Usaha-usaha
yang terkonsentrasi untuk mengintregrasikan ide-ide dalam suatu mata pelajaran
dapat mengabaikan kesempatan untuk mengembangkan hubungan yang lebih global
dengan mata pelajaran lain.
3. Model
Keterpaduan (Intergrated)
Model ini merupakan
pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antarmata pelajaran. Model ini
diusahakan dengan cara menggabungkan mata pelajaran dengan cara menetapkan
prioritas kurikuler dan menentukan keterampilan, konsep, dan sikap yang saling tumpang-tindih
di dalam beberapa mata pelajaran. Berbeda dengan model jaring laba-laba yang
menuntut pemilihan tema dan pengembangannya sebagai langkah awal maka dalam
model keterpaduan tema yang terkait dan bertumpang tindih merupakan hal yang
terakhir yang ingin dicari dan dipilih oleh guru dalam tahap perencanaan
program. Pertama guru menyeleksi konsep-konsep, keterampilan dan sikap yang
diajarkan dalam satu semester dari beberapa mata pelajaran, selanjutnya dipilih
beberapa konsep, keterampilan dan sikap yang memiliki keterhubungan yang erat
dan tumpang tindih di antara berbagai mata pelajaran.
Kekuatan model keterpaduan antara lain:
a.
Memudahkan siswa untuk mengarahkan
keterkaitan dan keterhubungan di antara berbagai mata pelajaran;
b.
Memungkinkan pemahaman antarmata pelajaran
dan memberikan penghargaan terhadap pengetahuan dan keahlian;
c.
Mampu membangun motivasi.
Kelemahan model keterpaduan antara lain:
a.
Model ini model yang sangat sulit
diterapkan secara penuh.
b.
Model ini menghendaki guru yang terampil,
percaya diri dan menguasai konsep, sikap dan keterampilan yang sangat
diprioritaskan.
c.
Model ini menghendaki tim antarmata
pelajaran yang terkadang sulit dilakukan, baik dalam perencanaan maupun
pelaksanaan.
"Jika ada kesalahan penulisan nama, pengertian, penjelasan, dan sebagainya, silahkan komentar di bawah ini atau kirim email kepada kami, kami akan segera mungkin akan meralat postingan ini."