Baca juga
Nama : Mukhammad Nur Arifin
NIM : 858851383
SOAL :
1. Perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi dalam generasi 4.0 ini mengakibatkan timbulnya masalah-masalah adanya
trend globalisasi. Berilah contoh Apa saja yang terkait dengan masalah/isu yang
timbul akibat trend globalisasi beserta
pengaruhnya terhadap pembelajaran IPS SD?
JAWAB :
Timbulnya
masalah-masalah adanya trend globalisasi 4.0 adalah :
1) Krisis energi
2) Jurang antara kaya dan miskin
3) Kepadatan penduduk yang mendorong urbanisasi
serta berjangkitnya penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh kelaparan dan
kemiskinan (termasuk kemiskinan pengerahuan)
4) Komunikasi. Sikap individualisme
5) Tidak stabilnya ekonomi dunia dan perdagangan
antar negara
6) Kebebasan dalam berdemokrasi di media sosial
tidak terkontrol atau terlalu berlebihan dan keterlaluan (adanya hater dan fans
mulai menimbulkan konflik, menghina, mengejek, dan saling menjatuhkan dalam
berkomentar). serta aib atau kesalahan pribadi di sebarkan secara publik.
7) Memudarnya tingkat apresiasi terhadap budaya
bangsa
8) Tidak ada rasa malu, attitude sudah hilang, dan
sopan santun sudah memudar
9) Transaksi penjualan bebas untuk barang dilarang
seperti perdagangan obat terlarang (narkoba), senjata dan human trafficking.
Contoh
pengaruh terhadap pembelajaran IPS di SD :
1) Berkembangnya teknologi 4.0 membuat anak-anak
siswa-siswi SD sangat mudah untuk mengakses internet sehingga malas untuk
belajar dan lebih suka untuk bermain game online.
2) Murid SD dapat mencontoh hal buruk dari media
sosial, seperti tingkah laku, nilai dan moral.
3) Murid SD mudah memesan lewat aplikasi tanpa
sepengetahuan orang tuanya.
4) Murid SD sangat bisa mengakses website berbau
pornografi tanpa pengawasan orang tuanya.
5) Terkikisnya budaya daerah sendiri dikarenakan
lebih suka budaya luar akibat promosi di media sosial yang begitu banyak.
Referensi : Modul Pendidikan IPS di SD (PDGK106)
SARDJIJO ISCHAK edisi 4 hal 4.6 - 4.8
2. Seorang anggota masyarakat yang
selalu taat dan patuh terhadap tatanan masyarakat yang berbentuk kumpulan
aturan (hukum) dan menimbulkan adanya aspek masalah-masalah hukum, ketertiban,
kesadaran hukum dan kaitan ketiga aspek tersebut dengan pendidikan IPS.
Analisislah apa hubungan masalah hukum, ketertiban, dan kesadaran hukum dengan
pendidikan IPS SD?
JAWAB :
1) Masalah-masalah
hukum adalah
Masalah-masalah yang berbagai permasalahan yang muncul sebagai akibat dari
interaksi atau pergaulan manusia sebagai makhluk sosial. Permasalahan tersebut dikategorikan
masalah hukum karena dari permasalahan yang muncul akan menyebabkan
terganggunya kepentingan atau hak salah satu individu/ kelompok oleh individu
atau kelompok lain sehingga diperlukan jalan ke luar (solusi) yang bersifat
mengingat kedua belah pihak.
2) Kesadaran
hukum adalah Ketertiban
ialah suatu keadaan yang menunjukkan adanya patokan, aturan atau pedoman maupun
petunjuk yang berlaku dan ditaati oleh setiap individu di dalam pergaulan
antara pribadi atau golongan (masyarakat).
3) Kesadaran
hukum adalah Suatu
sikap individu untuk menerima dengan rela dan bertanggung jawab terhadap
konsekuensi dari peristiwa hukum yang terjadi. Peristiwa hukum di sini
dimaksudkan sebagai semua peristiwa yang dapat menimbulkan akibat hukum.
Hubungan masalah hukum, ketertiban, dan
kesadaran hukum dengan pendidikan IPS?
Sebelum
menjawab pertanyaan tersebut, akan diuraikan dulu pengertian IPS dan Pendidikan
IPS
N. Daldjoeni (1981) menyatakan bahwa Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) berasal dari istilah Social Studies yang berkembang di
dunia pendidikan dasar dan lanjutan di AS setelah Perang Dunia I (1920). Bidang
ini mencoba mengkaji berbagai permasalahan yang terjadi di masyarakat. Oleh
karena itu, IPS dapat diartikan sebagai penelaahan masyarakat
Sesuai dengan kompleksitas (kerumitan) dan
kemajemukan yang dikandung oleh berbagai permasalahan yang muncul dalam
masyarakat maka IPS muncul menjadi suatu bahan kajian yang mencoba menelaah
permasalahan dengan menggunakan berbagai segi atau berbagai sudut pandangan
sehingga akan melibatkan berbagai ilmu pengetahuan. Misalnya, masalah
urbanisasi akan dikaji, tidak hanya dari segi geografis (kependudukan), tetapi
juga dari segi ekonomi, sejarah, antropologi, sosiologi, hukum, politik.
Melalui kajian yang interdisipliner ini diharapkan siswa dapat melihat
permasalahan secara multidimensional. Dengan demikian, pembelajaran ini akan
membentuk siswa yang memiliki visi (berpandangan) luas, tidak picik, dan
berjiwa demokratis.
Dalam
pendidikan dan pengajaran IPS, masyarakat sebagai suatu sistem dapat dijadikan
sebagai suatu paket kegiatan pembelajaran, Pengajaran IPS, di antaranya
bertujuan untuk mengenalkan peserta didik terhadap lingkungannya, bagaimana
siswa berinteraksi dengan lingkungannya, membentuk warga negara yang baik.
Berkaitan dengan pengenalan siswa terhadap lingkungan maka kegiatan IPS dapat
dimulai dari lingkungan yang terdekat sampai yang terjauh. Misalnya, dalam
memahami interaksi sosial peserta didik dikenalnya dari interaksi di antara
keluarga, lingkungan RT/RW,
Kelurahan/Desa,
Kecamatan. Setelah menyimak dan memahami tentang pengertian IPS, tujuan
pendidikan IPS dan bagaimana mengaplikasikan pendidikan IPS, akan dapat
menghubungkan aspek masalah-masalah hukum, ketertiban dan kesadaran hukum
dengan pendidikan IPS, seperti berikut ini.
permasalahan yang dapat muncul dari sebab yang
ditimbulkan dalam berbagai hubungan Sebagai ilmu pengetahuan yang menelaah
antara hubungan manusia (human relationships) yang mencakup hubungan individu
dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, serta kelompok dengan alam maka IPS
akan potensial di dalam mengkaji antarmanusia tersebut.
Mengapa potensial? Sebab dari hubungan
antarmanusia (human relationships) tersebut akan bermunculan peristiwa hukum
dan akibat hukum, seperti yang telah dijelaskan, pada gilirannya akan memiliki
keterhubungan di alam menanamkan nilai-nilai tentang kesadaran hukum dalam diri
peserta didik. Di samping itu, melalui pendidikan IPS kita dapat membentuk
siswa sebagai warga negara yang mendukung ketertiban sesuai kaidah-kaidah hukum
yang berlaku.
Referensi : Modul Pendidikan IPS di SD (PDGK106)
SARDJIJO ISCHAK edisi 4 hal 4.30 - 4.33
3. Siswa berhasil jika tujuan
pembelajaran di dalam kelas berhasil. Untuk mencapai tujuan pembelajaran di
kelas proses kegiatan belajar mengajar pendidikan IPS di SD terdapat beberapa
macam istilah pendekatan, strategi pembelajaran, metode, teknik, dan model
dalam pembelajaran. Analisislah perbedaan dari pendekatan, strategi
pembelajaran, metode, teknik, dan model dalam pembelajaran IPS di SD!
JAWAB :
1) Pendekatan
pembelajaran
Pendekatan
Pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya
suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi
menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan
teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, Bank (1977) menyebutkan
pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran
yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2)
pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher
centered approach).
2)
Strategi Pembelajaran
Istilah
"strategi" awal mulanya dikenal dalam dunia militer terutama terkait
dengan perang, atau dunia olah raga, namun demikian makna tersebut meluas tidak
hanya ada pada dunia militer atau olahraga saja akan tetapi merambah kebidang
ekonomi, sosial, pendidikan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1998: 203),
pengertian strategi (1) ilmu dan seni menggunakan sumber daya bangsa untuk
melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam dan perang damai, (2) rencana yang
cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.
Strategi
pembelajaran adalah separangkat kebijaksanaan yang terpilih, yang telah
dikaitkan dengan faktor yang menetukan warna atau strategi tersebut, yaitu:
a. Pemilihan materi pelajaran (guru atau peserta
didik).
b. Penyaji materi pelajaran (perorangan atau
kelompok, atau belajar mandiri).
c. Cara menyajikan materi pelajaran (induktif atau
deduktif, analitis atau sintesis, formal atau non formal).
d. Sasaran penerima materi pelajaran (kelompok,
perorangan, heterogen, atau homogen. (Kosasih Djahiri, 1985: 132).
3)
Metode Pembelajaran
Menurut
Ruseffendi (1980), Metode Pembelajaran adalah cara mengajar guru a secara umum
yang dapat diterapkan pada semua mata pelajaran, misalnya mengajar dengan
ceramah, ekspositori, tanya jawab, penemuan terbimbing dan sebagainya.
4)
Teknik Pembelajaran
Teknik
mengajar adalah penerapan secara khusus suatu metode pembelajaran yang telah
disesuaikan dengan kemampuan dan kebiasaan guru, ketersediaan media
pembelajaran serta kesiapan peserta didik. (Ruseffendi, 1980).
5)
Model Pembelajaran
Model
Pembelajaran adalah suatu disain yang menggambarkan proses rincian dan
penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan peserta didik berinteraksi
sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri peserta didik (Didang :
2005). Istilah "model pembelajaran" berbeda dengan strategi pembelajaran,
metode pembelajaran, dan pendekatan pembelajaran. Model pembelajaran meliputi
suatu model pembelajaran yang luas dan menyuluruh. Konsep model pembelajaran
lahir dan berkembang dari pakar psikologi dengan pendekatan dalam setting
eksperimen yang dilakukan. Konsep model pembelajaran untuk pertama kalinya
dikembangkan oleh Bruce dan koleganya (Joyce, Weil dan Showers, 1992)
Lebih lanjut
Ismail (2003) menyatakan istilah Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus
yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode tertentu yaitu:
a. Rasional teoritik yang logis disusun oleh
perancangnya,
b. Tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
c. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model
tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil, dan
d. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan
pembelajaran itu dapat tercapai.
Analisis perbedaan :
Dengan mengetahui perbedaan pengertian antara
model, strategi, pendekatan dan metode serta teknik pembelajaran diharapkan
guru mata pelajaran umumnya dan khususnya guru IPS mampu memilih model
pembelajaran, strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi dan standar
kompetensi serta kompetensi dasar dalam standar isi.
Selanjutnya setelah kita memahami perbedaan
definisi antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan model pembelajaran,
selanjutnya marilah pembahasan kita difokuskan pada pendekatan pembelajaran
IPS. Menurut Banks (1977) pendekatan yang khas dalam IPS yang potensial dapat
mengembangkan kecerdasan rasional adalah Social Science Inquiry atau Penelitian
Ilmu Sosial. Pendekatan ini memiliki karakteristik sebagai berikut. (Banks,
1977: 41-70).
Referensi : Modul Pendidikan IPS di SD (PDGK106)
SARDJIJO ISCHAK edisi 4 hal 5.4 - 5.6
4. Anda sebagai seorang guru, tentunya
membuat perencanaan pembelajaran yang akan dicapai dalam setiap kegiatan
belajar mengajar IPS di kelas. Rancanglah ranah dan tingkatan setiap siswa
dalam perencanaan kegiatan belajar
mengajar (RPP) IPS SD kelas rendah!
JAWAB :
sebagai
guru, tentunya membuat perencanaan pembelajaran yang akan dicapai dalam setiap
kegiatan belajar mengajar IPS dikelas, Goals dan objectives yang akan dicapai
biasanya dikelompokan dalam area, atau ranah (domain). Dengan kata lain Anda
harus menentukan ranah (domain) dan tingkatanya (level) mana yang harus dicapai
siswa. Setiap ranah merefleksikan seperangkat kepercayaan dan asumsi mengenai
bagaimana siswa belajar dan berperilaku. Setiap ranah menjelaskan tujuan yang
hendak dicapai dari mulai tingkatan yang sederhana sampai yang lebih kompleks.
Menurut Oliva (1992), ada tiga-kategori dasar, yaitu ranah kognitif (knowledge
elements), ranah psikomotor (skill elements), dan ranah afektif (value
elements).
1)
Ranah Kognitif.
Ketika
guru mengidentifikasi ranah kognitif, dia harus menggunakan rencana pembelajaran
untuk menjembatani tujuan yang akan dicapainya. Bloom dan kawan-kawan (1956)
telah mengembangkan taksonomi tujuan pendidikan yang berkaitan dengan
perkembangan intelektual siswa.
Enam
tingkatan kemampuan kognitif dari Blomm mulai dari pengetahuan (knoledge) sampai evaluasi, dari perolehan
pengetahuan (mengingat) yang paling rendah sampai tingkatan kemampuan berpikir
produktif yang tinggi. Keenam kemampuan kognitif tersebut adalah sebagai
berikut.
a. Mengingat (recall) menekankan kepada kemampuan mengingat
informasi dengan ditandai perilaku siswa, seperti: menjelaskan, menyatakan,
menyebutkan, mengingat, dan mengenali. Contohnya: siswa dapat menjelaskan
pengertian uang.
b. Pemahaman, menekankan pada mengerti dan
mengorganisasikan bahan bahan yang telah dipelajarai, ditandai dengan contoh
perilaku seperti: menghubungkan, menjelaskan, membandingkan, menyimpulkan,
menapsirkan, dan menerjemahkan.
c. Aplikasi menekankan kepada penggunaan informasi
pada situasi tertentu, hal ini ditandai dengan perilaku seperti: memberikan
contoh, menerapkan, memecahkan, mendemonstrasikan, menghitung, menyiapkan,
mengklasifikasikan, dan menggunakan.
d. Analisa menekankan kemampuan berpikir kritis,
kemampuan analisa adalah kemampuan komunikasi untuk menguraikan atau memecah
suatu persoalan atau materi menjadi bagian-bagian, dan menemukan hubungan antar
bagian tersebut, dan bagaimana bagian-bagian tersebut diorganisisikan. Hal ini
ditandai dengan contoh karakteristik: memberikan alasan, menganalisis,
mejelaskan sebab dan akibat, dan membuktikan.
e. Sintesa menekanan kepada kemampuan berpikir
original (original thinking) dengan mengambil bagian-bagian yang telah
dipelajari menjadi kesatuan yang utuh. Hal ini ditandai dengan contoh
karakteristik seperti: mengembankan, menciptakan, mensintesa, menyusun,
merencanakan, dan memecahkan.
f. Evaluasi menekankan pada kemampuan untuk membuat
pertimbangan didasarkan pada standar tertentu. Hal ini ditandai dengan contoh
karakteristik seperti: memutuskan, menaksir, mengukur/menilai, menyeleksi, dan
menyetujui atau tidak menyetujui.
2)
Ranah Afektif
Disamping
mengembangkan ranah kognitif, Bloom dan kawan kawan juga mengembangkan skema
yang berhubunngan dengan nilai (value) dan sikap (atittude) siswa. Menurut
struktur dikembangkannya, ranah afektif terdiri atas lima tingkatan. Kelima
tingkatan tersebut mulai dari mulai yang sederhana, kesadaran atau mempersepsi
sesuatu sampai internalisasi suatu menjadi bagian dari hidupnya.
Kelima
tingkatan ranah afektif tersebut ialah:
a. Penerimaan, menekankan pada kesadaran akan
penomena lingkungan, hal ini ditandai dengan contoh karakteristik seperti:
mendengarkan, menjelaskan, dan menghadiri.
b. Respon, menekankan pada reaksi terhadap
komunikasi atau fenomena, hal ini ditandai dengan karaktersitik seperti
dicontohkan berikut: membaca, menulis, mengatakan, dan berlatih.
c. Penilaian, menekankan pada kepantasan sesuatu
dari lingkungannya, hal ini ditandai dengan contoh karakteristik seperti:
menghargai, mengikuti, memilih, dan menilai.
d. Pengorganisasian, menekankan pada melakukan
pemilihan yang tepat atau pantas berdasarkan nilai-nilai yang mereka pegang.
Hal ini ditandai dengan contoh perilaku seperti: menyeleksi, membandingkan,
menegaskan, memprioritaskan, dan mengatur.
e. Karaktersitik, menekankan pada perilaku siswa
yang konsisten yang sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku. Hal ini ditandai
dengan contoh perilaku sebagai berikut: menentukan, mendemonstrasikan, dan
mempribadikan.
3)
Ranah Psikomotor
Perkembangan keterampilan psikomotor cenderung menjadi sebuah proses yang dipraktekan dan diperhalus atau diperbaiki terus-menerus dalam jangka waktu yang lama sampai tingkatan tertentu dikuasai dengan baik. Ranah psikomotor terutama berkaitan dengan tujuan yang berkaitan dengan ketrampilan fisik atau motorik pada anak usia sekolah dasar.gom Harrow (1969) mengidentifikasi ketrampilan psikomor ini dalam lima tingkatan, vaitu: imitasi, manipulasi, presisi, artikulasi, dan maturasi atau kedewasaan.
Referensi : Modul Pendidikan IPS di SD (PDGK106)
SARDJIJO ISCHAK edisi 4 hal 6.8 - 6.10
5. Sebelum memulai kegiatan belajar
mengajar sebagai seorang guru harus membuat perencanan pembelajaran yang
disebut dengan RPP. Terkait dengan hal tersebut. Analisislah penerapan model
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang tepat dalam mengajarkan IPS SD
kelas rendah!
JAWAB :
Model
persiapan mengajar pada umumnya digunakan para guru dalam membuat rencana
program pengajaran. Adapun model tersebut adalah ROPES. Hunts (dalam Abdul
Majid, 2007:99-102) menyebut rencana prosedur pembelajaran sebagai persiapan
mengajar disebutnya ROPES (Review, Overview, Presentation, Exercise Summary)
meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
1)
Review
Kegiatan ini
dilakukan dalam waktu 1 sampai 5 menit, yakni mencoba mengukur kesiapan siswa
untuk mempelajari bahan ajar dengan melihat pengalaman sebelumnya yang sudah
dimiliki oleh siswa dan diperlukan sebagai prerequisite untuk memahami bahan
yang disampaikan hari itu. Hal ini diperlukan dengan didasarkan atas :
a. Guru bisa memulai pelajaran, jika perhatian dan
motivasi siswa untuk mempelajari bahan baru sudah mulai tumbuh.
b. Guru hendak memulai pelajaran, jika interaksi
antara guru dengan siswa sudah mulai terbentuk.
c. Guru dapat memulai pembelajaran jika siswa-siswa
sudah memahami hubungan bahan ajar sebelumnya dengan bahan ajar baru yang
dipelajari hari itu.
d. Guru harus yakin dan tabu betul jika siswa sudah
siap menerima pelajaran baru. Jika siswa belum menguasai pelajaran sebelumnya,
maka guru harus dengan bijak memberi kesempatan kepada siswa untuk memahaminya
terlebih dahulu atau mencerahkan melalui pemberian tugas, penjelasan,
bimbingan, tutor sebaya, dan baru bergerak pada materi sebelumnya. Apabila
terjadi akumulasi bahan ajar yang tertunda, maka harus dicarikan waktu
tambahan, karena lebih baik menunda bahan ajar baru daripada menumpuk
ketidakpahaman siswa.
2)
Overview
Sebagaimana
review, overview dilakukan tidak terlalu lama berkisar antara 2 sampai 5 menit.
Guru menjelaskan program pembelajaran yang akan dilaksanakan pada hari itu
dengan menyampaikan isi (content) secara singkat dan strategi yang akan
digunakan dalam proses pembelajaran. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pandangannya atas langkah-langkah
pembelajaran yang hendak ditempuh oleh guru sehingga berlangsungnya proses
pembelajaran bukan hanya milik guru semata, akan tetapi siswa pun ikut merasa
senang dan merasa dihargai keberadaannya.
3)
Presentation
Tahap ini
merupakan inti dari proses kegiatan belajar mengajar karena di sini guru sudah
tidak lagi memberikan penjelasan-penjelasan singkat, akan tetapi sudah masuk
pada proses telling, showing, dan doing. Proses tersebut sangat diperlukan
untuk meningkatkan daya serap dan daya ingat siswa tentang pelajaran yang
mereka dapatkan. Hal ini sejalan dengan konsep yang dikemukakan oleh Mohammad Syafe'i yaitu bahan-bahan yang
dapat mengembangkan pikiran, perasaan dan keterampilan atau yang lebih dikenal
dengan istilah 3 H, yaitu : Head, Heart, dan Hland Apalagi jika kompetensinya
memasuki wilayah afektif dan psikomotor, strategi pembelajaran yang menekankan
pada doing atau hand menjadi sangat penting, karena penerimaan, tanggapan dan
penanaman nilai akan otomatis berjalan dalam proses belajar mengajar. Semakin
bervariasi strategi pembelajaran yang digunakan, semakin baik proses dan hasil
yang dicapai, karena tidak menjadikan siswa jenuh, melainkan mengantarkan
mereka menikmati proses pembelajaran dengan suasana asyik dan menyenangkan.
4)
Exercise
Suatu proses
untuk memberikan kesempatan kepada siswa mempraktekkan apa yang telah mereka
pahami. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pengalaman langsung kepada siswa
sehingga hasil yang dicapai lebih bermakna. Oleh karena itu guru harus mempersiapkan
rencana pembelajaran tersebut dengan baik melalui skenario yang sistematis. Di
samping itu pula guru harus mempersiapkan perencanaan pengajaran bukan hanya
bahan ajar saja, tetapi pengalaman belajar siswa yang harus diberikan lewat
peragaan-peragaan, bermain peran dan sejenisnya yang harus ditata berdasarkan
alokasi waktu antara penjelasan, asignment (tugas-tugas), peragaan dan lain
sebagainya.
5)
Summary
Dimaksudkan
untuk memperkuat apa yang telah mereka pahami dalam proses pembelajaran. Hal
ini sering tertinggal oleh guru karena mereka disibukkan dengan presentase, dan
bahkan mungkin guru tidak pernah membuat summary (kesimpulan) dari apa yang
telah mereka ajarkan.
Apabila kita analisa model ROPES tersebut
diatas, maka kita akan menemukan hal yang ganjil dari rencana prosedur
pembelajaran yang dikemukakan oleh Hunts tersebut. Dimana model ROPES tersebut
didalamnya tidak mencantumkannya aspek penilaian, padahal hasil penilaian
selain mengukur tingkat pencapaian kompetensi siswa, juga dapat dijadikan input
untuk melakukan perbaikan pada proses pembelajaran berikutnya. Jika guru tidak
mempunyai data dan informasi yang cukup tentang perkembangan siswanya, maka
terjadilah penumpukan akumulasi ketidakpahaman siswa yang pada akhirnya menjadi
bumerang bagi sekolah itu sendiri, sehingga muncul anggapan sekolah meluluskan
siswa dengan kemampuan di bawah standar minimal penguasaan kompetensi.
Model perencanaan diatas memberikan gambaran
yang cukup jelas, bahwa perencanaan pengajaran merupakan proses dan cara
berpikir yang dapat membantu hasil yang diharapkan.
Referensi : Modul Pendidikan IPS di SD (PDGK106) SARDJIJO ISCHAK edisi 4 hal 6.20 - 2.21
Terimakasih.
"Jika ada kesalahan penulisan Chord dan Lirik Lagunya, silahkan komentar di bawah ini atau kirim email kepada kami, kami akan segera mungkin akan meralat postingan ini."